Jerawat

Jerawat dan Psikologi Remaja

Jerawat dan Psikologi Remaja – Ada ungkapan, “Kalau kita merasa tampil menarik, kita akan merasa lebih baik.” Mau tidak mau, penampilan memang memengaruhi kepercayaan diri seseorang. Meskipun orang lain mungkin melihat kita dengan cara yang berbeda, tetap saja kita berusaha tampil maksimal agar terlihat menarik. Semua orang ingin tampil keren, seolah-olah tidak ada yang lebih tampan atau cantik dari mereka. Apalagi bagi orang-orang di dunia hiburan dan media, penampilan sering dianggap lebih penting dari segalanya.

Begitu juga dengan remaja, penampilan bisa jadi lebih penting daripada kepribadian mereka sendiri. Sayangnya, cara pandang yang seperti ini bisa berdampak buruk dan menimbulkan masalah serius. Saat ini, semakin banyak remaja mengalami depresi. Remaja perempuan yang mengejar kesempurnaan fisik bisa mengalami anoreksia atau bulimia. Ada juga yang memilih menarik diri dan merasa sangat tidak nyaman dalam pergaulan. Jadi, ketika jerawat muncul, bagaimana para remaja bisa menghadapi kenyataan bahwa wajah mereka tidak lagi mulus? Remaja bisa sangat kejam, baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri.

Menurut laporan dari American Academy of Dermatology, sekitar 95% remaja di Amerika mengalami jerawat saat masa pubertas. Untuk jerawat ringan, ada yang masih bisa menyamarkannya dengan makeup atau obat jerawat berwarna kulit. Ada juga yang menggunakan rambut panjang atau aksesori seperti topi untuk menyembunyikannya. Tapi bagi mereka yang mengalami jerawat parah, wajah mereka tetap terlihat jelas oleh semua orang.

Karena jerawat sangat umum di masa remaja, banyak yang merasa cemas tentang bagaimana teman-teman mereka menilai mereka. Rasa percaya diri dan harga diri bisa turun karena takut dikomentari atau dijauhi. Padahal, remaja sudah cukup kerepotan dengan perubahan fisik lainnya yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Pada saat inilah mereka merasa paling rentan, karena selain ingin diterima dalam pergaulan, mereka juga sangat peduli dengan penampilan mereka. Sayangnya, ada orang tua yang menganggap remeh perasaan ini.

Banyak orang tua yang berpikir, “Dulu saya juga mengalami ini, nanti juga sembuh sendiri.” Memang benar, jerawat biasanya akan membaik dengan waktu. Tapi ketika jerawat pertama kali muncul—dan biasanya makin parah sebelum akhirnya membaik—remaja akan tetap merasa cemas dan takut dinilai buruk oleh teman-temannya. Akibatnya, rasa percaya diri mereka bisa anjlok. Rasa tidak nyaman terhadap diri sendiri ini bisa mengganggu perkembangan psikologis mereka, terutama di masa transisi menuju dewasa.

Seharusnya, masa remaja adalah waktu untuk bersosialisasi dan menikmati berbagai aktivitas. Namun, rasa takut “berbeda” bisa membuat mereka enggan bergaul. Di sinilah dukungan orang tua menjadi sangat penting. Meskipun remaja tampak tidak butuh bantuan, dukungan kecil dari orang tua bisa membantu mereka melewati fase ini dengan lebih percaya diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *